10 Fenomena Unik Pesona Keindahan Alam Indonesia
salju-jaya-wijaya
Indonesia di mancanegara terkenal akan keunikan, keragaman, dan keindahan alamnya. Contohnya seperti pantai Kuta, pantai Sanur, desa Ubud, dan Tanah Lot di Bali. Keunikan dan keindahan alam Indonesia tidak hanya dapat dijumpai Bali, tapi ada banyak wilayah lainnya yang mungkin orang Indonesia sendiri belum tahu.
Berikut adalah fenomena unik keindahan alam Indonesia, mulai dari gunung, sungai, hingga laut.
1. Salju Abadi, Jayawijaya, Pegunungan Sudirman, Papua
Salju di Puncak Jaya Wijaya, gambar: rajakamar.com
Sebelumnya puncak tertinggi di Asia Tenggara dan Pasifik (4,884 m) ini bernama Carstensz Pyramid atau Puncak Carstensz sebagai penghormatan terhadap petualang dari Belanda yaitu Jan Carstensz yang pertama kali melihat adanya puncak gunung tertutup salju di daerah tropis, tepatnya di Pulau Papua. Pengamatan tersebut dilakukan dari sebuah kapal laut pada tahun 1623. Karena tidak ada bukti nyata, laporan tersebut dianggap mengada-ada. Akhirnya pada tahun 1899, laporan pengamatan Jan Carstensz diakui kebenarannya setelah sebuah ekspedisi Belanda membuat peta Pulau Papua dan menemukan gunung bersalju tersebut.
Puncak Jaya pertama kali ditaklukan pada tahun 1962 oleh pendaki bernama Heinrich Harrer yang terkenal dengan bukunya “Seven Years in Tibet.” Kini salju abadi di Puncak Jaya tersebut sudah semakin berkurang, tinggal 17 titik dari 20 titik.
2. Danau Tiga Warna, Gunung Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Danau Tiga Warna, Kelimutu, gambar: selasar.com
Danau vulkanik ini merupakan tiga kawah terpisah akibat dari letusan Gunung Kelimutu. Danau ini dinilai ajaib dan misterius karena warna airnya berubah-ubah seiring berjalannya waktu.
Di sebelah timur, ada dua danau yang berdampingan, yang masing-masing airnya berwarna hijau dan coklat tua. Air yang berwarna hijau diberi nama ‘tiwu nua mori ko’o fai’ atau arwah muda mudi. Air yang berwana coklat tua diberi nama ‘tiwu ata polo’ atau arwah orang jahat. Tiwu ata polo tercatat sering berubah warna, mulai dari hijau menjadi coklat, hijau tua menjadi hijau toska, dan coklat tua menjadi merah hati ayam. Sedangkan danau di sebelah barat, yang dulu berwarna biru lalu berubah menjadi hijau lumut atau gelap disebut ‘tiwu ata mbupu’ atau arwah orang tua.
Berubahnya warna air di tiga danau Kelimutu ini sering dikaitkan dengan keadaan Indonesia.
3. Gua dengan Lukisan Stensil Tangan Tertua di Dunia, Maros, Sulawesi Selatan.

Gua dengan Lukisan Stensil Tertua di Maros, gambar: penulispro.com
Tahun 2011, tim peneliti dari Australia dan Indonesia mulai bekerja sama melakukan penelitian terhadap lukisan-lukisan gua di Maros dalam kesepakatan jangka panjang antara Pusat Arkeologi Nasional Indonesia dengan Centre for Archeological Science (CAS) di Universitas Wollonggong. Pada bulan Oktober 2014, majalah “Nature” memberitakan hasil penelitian ini, bahwa lukisan stensil tangan yang ditemukan di gua Maros berusia 40.000 tahun.
Penemuan ini merevolusi gagasan tentang sejarah dan asal usul seni yang awalnya diperkirakan lahir di Eropa, 37.300 tahun yang lalu di gua El Castillo di Spanyol. Hal ini menunjukan bahwa tingkat seni di Sulawesi sama tuanya dengan di Eropa. Manusia purba di Sulawesi ternyata melakukan hal yang sama dengan rekannya di Eropa. Hasil penelitian ini dapat merubah pandangan tentang sejarah penyebaran dan peradaban manusia.
4. Air Terjun Dua Warna, Sibolangit, Sumatera Utara.

Air Terjun Dua Warna, gambar: klikhotel.com
Warna air ini dipengaruhi oleh kandungan fosfor dan belerang di dalamnya. Itulah mengapa ada larangan untuk meminum air di tempat ini. Berkunjung kesini tidak disarankan di musim hujan karena perjalanannya yang licin.
5. Bledug Kuwu, Grobogan, Jawa Tengah.

Bledug Kuwu, gambar: barnorama.com
Bledug Kuwu diambil dari bahasa Jawa. Kata ‘bledug’ berarti letupan dan kata ‘kuwu’ merupakan nama desa tempat kawah lumpur tersebut berada. Ada beberapa kawah di lokasi ini, yang paling besar diberi nama Kawah Jaka Tuwa yang berada di sisi sebelah timur dan yang paling kecil disebut Kawah Rara Denok yang berada di sisi sebelah barat.
Masyarakat setempat memanfaatkan letupan Bledug Kuwu sebagai sumber pembuatan garam. Garam yang dihasilkan ternyata lebih putih, halus, dan gurih daripada garam dari air laut. Garam tersebut juga konon dipakai sebagai bumbu di Keraton Kasunanan Surakarta, dan dipercaya dapat mencegah penyakit kulit serta menghaluskan kulit jika digunakan sebagai lulur.
6. Api Abadi, Pamekasan, Madura

Api Abadi di Pamekasan
Api Tak Kunjung Padam merupakan nama yang diberikan untuk api alam abadi di Pamekasan. Jika api mati karena terguyur hujan lebat, maka orang-orang tinggal menyalakan korek api dan mencongkel tanah di dalam pagar pembatas lalu timbulah api kembali. Tanah di kawasan ini ternyata mengandung belerang yang kemudian bergesekan dengan O2 sehingga menimbulkan nyala api.
Di kawasan ini ternyata ada dua lokasi api abadi, yaitu yang biasa dikunjungi wisatawan disebut ‘Apoy Lake’ (api laki-laki), sedangkan satunya lagi berada di dekat pintu masuk (di tengah sawah) bernama ‘Apoy Bine’ (api wanita).
7. Gumuk “Padang” Pasir Parangkusumo, Yogyakarta

Gumuk, Padang Pasir di Parangkusumo, gambar: kaskus.co.id
Proses terjadinya padang pasir ini tidak lepas karena adanya Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Kali Opak, Kali Progo, dan Pantai Parangtritis. Abu vulkanik gunung terbawa oleh aliran sungai Opak, sungai Progo, dan sungai-sungai lainnya hingga ke Pantai Parangtritis. Disini material vulkanik tersebut terombang-ambing oleh ombak hingga akhirnya terkikis dan menjadi debu-debu halus yang akhirnya sampai ke tepi pantai dan mudah diterbangkan oleh angin. Proses ini terjadi secara terus menerus hingga terbentuklah gundukan pasir yang semakin melebar dan tinggi di sepanjang Pantai Parangtritis dan Pantai Depok.
Rencananya Gumuk Pasir Parangkusumo akan dimasukan dalam daftar Unesco World Heritage karena fenomena alam yang hanya ada satu-satunya di Asia Tenggara. Suhu di kawasan ini cukup ekstrim, sama seperti di kawasan gurun pasir sebenarnya. Siang hari terasa panas dan terik, sedangkan malam hari terasa sangat dingin.
8. Ombak ‘Bono’ Tujuh Hantu, Sungai Kampar, Riau, Sumatera Barat.

Ombak Bono, gambar: triptus.com
Ombak bono di kawasan ini mempunyai tinggi sekitar 6 – 10 meter. Ombak inilah yang menarik bagi para peselancar baik lokal maupun mancanegara.
Ombak bono merupakan fenomena alam yang cukup langka dan jarang terjadi. Ombak ini terjadi pada setiap tanggal 13-18 (tengah bulan) dalam penghitungan kalender Hijriyah. Penduduk setempat menyebutnya sebagai “Bulan Besar” atau “Bulan Purnama.”
9. Pantai Pink, Pantai Tangsi, Lombok Timur

Pantai Pink., Lombok Timur, gambar: kapanlagi.com
Pantai ini terletak di Dusun Temeak, Desa Serewe, Kecamatan Jerowaru, atau 82 km dari kota Mataram. Penduduk setempat menamainya pantai Tangsi karena dulu pantai ini pernah dijadikan markas tentara Jepang pada Perang Dunia II.
Tidak hanya menikmati pemandangan pasir berwarna pink, di kawasan ini pengunjung dapat melihat Gunung Rinjani yang ada di utara pantai.
10. Laut Terbelah atau Gosong Pasir, Morotai, Halmahera.

Gosong Pasir atau Laut Terbelah di Halmahera, gambar: wisata.kompasiana.com
Fenomena gosong pasir terjadi pada saat air laut sedang surut. Gosong pasir ini menghubungkan Dodola Besar dan Dodola Kecil yang membuatnya terlihat seperti laut terbelah.
Tidak hanya gosong pasir, pengunjung juga dapat melihat batu kopi, batu yang menebar bau harum khas kopi.